Halaman

Kamis, 15 Desember 2011

Perkiraan risiko terjadinya dekubitus dengan Skala Braden

Dalam perawatan yang cukup lama, baik di bangsal rumah sakit maupun di rumah, terutama klien dengan keadaan kronis dan imobilisasi, risiko terjadinya dekubitus (pressure ulcer) akan meningkat. Maka diperlukan suatu perkiraan dan pencegahan terhadap dekubitus ini secara sistematis. Karena dekubitus dapat merugikan klien secara fisik dan materi, karena dapat mengakibatkan kerusakan tubuh dan memerlukan dana tambahan untuk melakukan perawat jaringan dekubitus tersebut. Dekubitus dapat memiliki dampak psikis, berupa Harga Diri Rendah dan beberapa efek lainnya.

Dalam mengidentifikasi risiko dekubitus, ada beberapa skala pengkajian risiko tersebut, antara lain; 1. Skala Gosnell, 2. Skala Norton, 3. Skala Braden. Ketiga skala ini bertujuan mengidentifikasi risiko tinggi-rendahnya kemungkinan untuk terjadinya dekubitus dan segera melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi dekubitus di kemudian hari sesuai tingkatan risiko.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas tentang Skala Braden untuk menilai risiko terjadinya dekubitus. Karena skala ini menurut kalangan profesional Keperawatan memiliki efektifitas tinggi dalam menentukan risiko terjadinya dekubitus. Dalam skala Braden terdapat 6 (enam) subskala untuk menentukan tingkatan risiko terjadinya dekubitus. Subskala tersebut antara lain adalah; 1. Persepsi Sensorik, 2. Kelembapan, 3. Aktivitas, 4. Mobilisasi, 5. Nutrisi, 6. Friksi dan Gesekan. Download Skala Braden di sini

Berikut adalah penjelasan dari masing-masing skala:

1. Persepsi Sensorik

Definisi: kemampuan untuk merespon tekanan berarti yang berhubungan dengan ketidaknyamanan.

Pada subskala ini terdapat 4 (empat) tingkat nilai, yaitu; 1 adalah nilai terendah (risiko tinggi) dan 4 adalah nilai tertinggi (risiko rendah).

Nilai 1 diberikan apabila terjadi keterbatasan total, yaitu tidak adanya respon pada stimulus nyeri akibat kesadaran yang menurun ataupun karena pemberian obat-obat sedasi atau keterbatasan kemampuan untuk merasakan nyeri pada sebagian besar permukaan tubuh.

Nilai 2 diberikan apabila sangat terbatas, yaitu hanya berespon hanya pada stimulus nyeri. Tidak dapat mengkomunikasinya ketidaknyamanan, kecuali dengan merintih dan / atau gelisah. Atau mempunyai gangguan sensorik yang membatasi kemampuan untuk merasakan nyeri atau ketidaknyamanan pada separuh permukaan tubuh.

Nilai 3 diberikan pada saat hanya terjadi sedikit keterbatasan yaitu dalam keadaan klien berespon pada perintah verbal, tetapi tidak selalu dapat mengkomunikasikan ketidaknyamanan atau harus dibantu membalikkan tubuh. Atau mempunyai gangguan sensorik yang membatasi kemampuan merasakan nyeri atau ketidaknyamanan pada 1 atau 2 ektrimitas.

Nilai 4 diberikan pada saat tidak terjadi gangguan, yaitu dalam berespon pada perintah verbal dengan baik. Tidak ada penrunan sendorik yang akan membatasi kemampuan untuk merasakan atau mengungkapkan nyeri atau ketidaknyamanan.


2. Kelembapan

Definisi: Tingkat kulit yang terpapar kelembapan.


Pada subskala ini terdapat 4 (empat) tingkat nilai, yaitu; 1 adalah nilai terendah (risiko tinggi) dan 4 adalah nilai tertinggi (risiko rendah).

Nilai 1 diberikan apabila terjadi kelembapan kulit yang konstan, yaitu saat  kulit selalu lembab karena perspirasi, urine dsb. Kelembapan diketahui saat klien bergerak, membalik tubuh atau dengan dibantu perawat.

Nilai 2 diberi apabila kulit sangat lembab, yaitu saat kelembaban sering terjadi tetapi tidak selalu lembab. Idealnya alat tenun dalam keadaan ini harus diganti setiap pergantian jaga.

Nilai 3 diberikan pada saat kulit kadang lembab, yaitu pada waktu tertentu saja terjadi kelembaban. Dalam keadaan ini, idealnya alat tenun diganti dengan 1 kali pertambahan ekstra (2 x sehari).

Nilai 4 diberikan pada saat kulit jarang lembab, yaitu pada saat keadaan kulit biasanya selalu kering, alat tenun hanya perlu diganti sesuai jadwal (1 x sehari).

3. Aktifitas



Definisi: Tingkat Aktifitas Fisik.

Pada subskala ini terdapat 4 (empat) tingkat nilai, yaitu; 1 adalah nilai terendah (risiko tinggi) dan 4 adalah nilai tertinggi (risiko rendah).

Nilai 1 diberikan kepada klien dengan tirah baring, yang beraktifitas terbatas di atas tempat tidur saja.

Nilai 2 diberikan kepada klien yang dapat bergerak (berjalan) dengan keterbatasan yang tinggi atau tidak mampu berjalan. Tidak dapat menopang berat badannya sendiri dan / atau harus dibantu pindah ke atas kursi atau kursi roda.

Nilai 3 diberikan kepada klien yang dapat berjalan sendiri pada siang hari, tapi hanya dalam jarak pendek/dekat, dengan atau tanpa bantuan. Sebagian besar waktu dihabiskan di atas tempat tidur atau kursi.

Nilai 4 diberikan kepada klien yang dapat sering berjalan ke luar kamar sedikitnya 2 kali sehari dan di dalam kamar sedikitnya 1 kali tiap 2 jam selama terjaga.

4. Mobilisasi


Definisi: Kemampuan mengubah dan mengontrol posisi tubuh.

Pada subskala ini terdapat 4 (empat) tingkat nilai, yaitu; 1 adalah nilai terendah (risiko tinggi) dan 4 adalah nilai tertinggi (risiko rendah).

Nilai 1 diberikan pada klien dengan imobilisasi total. Tidak dapat melakukan perbuahan posisi tubuh atau ekstrimitas tanpa bantuan, walaupun hanya sedikit.

Nilai 2 diberikan kepada klien dengan keadaan sangat terbatas, yaitu klien dengan kadang-kadang melakukan perubahan kecil pada posisi tubuh dan ekstrimitas, tapi tidak mampu melakukan perubahan yang sering dan berarti secara mandiri.

Nilai 3 diberika kepada klien yang mobilisasinya agak terbatas, yaitu klien yang dapat dengan sering melakukan perubahan kecil pada posisi tubuh dan ekstrimitas secara mandiri.

Nilai 4 diberikan kepada klien yang tidak memiliki ketidakterbatasan dalam hal mobilisasi, yaitu keadaan klien dapat melakukan perubahan posisi yang bermakna dan sering tanpa bantuan.

5. Nutrisi


Definisi: Pola asupan makanan yang lazim.

Pada subskala ini terdapat 4 (empat) tingkat nilai, yaitu; 1 adalah nilai terendah (risiko tinggi) dan 4 adalah nilai tertinggi (risiko rendah).

Nilai 1 diberikan kepada klien dengan keadaan asupan gizi yang sangat buruk, yaitu klien dengan keadaan tidak pernah makan makanan lengkap. jarang makan lebih dari 1/3 porsi makanan yang diberikan. Tiap hari asupan protein (daging / susu) 2 x atau kurang. Kurang minum. Tidak makan suplemen makanan cair.  Atau  Puasa dan/atau minum air bening atau mendapat infus > 5 hari.

Nilai 2 diberikan kepada klien dengan keadaan mungkin kurang asupan nutrisi, yaitu klien dengan jarang makan makanan lengkap dan umumnya makan kira-kira hanya 1/2 porsi makanan yang diberikan. Asupan protein, daging dan susu hanya 3 kali sehari. Kadang-kadang mau makan makanan suplemen.  Atau menerima kurang dari jumlah optimum makanan cair dari sonde (NGT).

Nilai 3 diberikan kepada klien dengan keadaan cukup asupan nutrisi, yaitu klien dengan keadaan makan makanan > 1/2 porsi makanan yang diberikan. Makan protein daging sebanyak 4 kali sehari. Kadang-kadang menolak makan, tapi biasa mau makan suplemen yang diberikan.  Atau diberikan melalui sonde (NGT) atau regimen nutrisi parenteral yang mungkin dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan nutrisi.

Nilai 4 dinerika kepada klien yang baik asupan nutrisinya, yaitu klien dengan keadaan makan makanan yang diberikan. Tidak pernah menolak makan. Biasa makan 4 kali atau lebih dengan protein (daging/susu). Kadang-kadang makan di antara jam makan. Tidak memerlukan suplemen.

6. Friksi dan Gesekan

Definisi: -----

Pada subskala ini terdapat 3 (tiga) tingkat nilai, yaitu; 1 adalah nilai terendah (risiko tinggi) dan 3 adalah nilai tertinggi (risiko rendah).

Nilai 1 diberikan pada klien dengan masalah, yaitu klien yang memerlukan bantuan sedang sampai maksimum untuk bergerak. Tidak mampu mengangkat tanpa terjatuh. Seringkali terjatuh ke atas tempat tidur atau kursi, sering membutuhkan maksimum untuk posisi kembali Kejang, kontraktur atau agitasi menyebabkan friksi terus menerus.

Nilai 2 diberikan kepada klien dengan masalah yang  berpotensi, yaitu klien yang bergerak dengan lemah dan membutuhkan bantuan minimum. Selama bergerak kulit mungkin akan menyentuh alas tidur, kursi, alat pengikat atau alat lain. Sebagian besar mampu mempertahankan posisi yang relatif baik diatas kursi atau tempat tidur, tapi kadang-kadang jatuh ke bawah.

Nilai 3 diberikan kepada klien yang tidak memiliki masalah, yaitu klien yang bergerak di atas tempat tidur maupun kursi dengan mandiri dan mempunyai otot yang cukup kuat untuk mengangkat sesuatu sambil bergerak. Mampu mempertahankan posisi yang baik di atas tempat tidur atau kursi.


Nilai total pada pada skala Braden ini berada pada rentang 6-23, tergantung pada hasil penilaian perawat tersebut. Total nilai rendah menunjukkan risiko tinggi dekubitus, sehingga perlu pencegahan segera. Klien dewasa di rumah sakit dengan nilai 16 atau kurang dan klien lansia dengan 17 ataupun 18 dianggap berisiko.

Dalam penelitian Lahmann dkk (2009) di Jerman, menemukan bahwa tidak semua subskala dalam skala Braden memiliki pengaruh yang sama dalam menentukan risiko terjadinya dekubitus. Subskala yang paling mempengaruhi terjadinya dekubitus menurut penelitian tersebut adalah subskala friksi dan gesekan. Subskala yang dianggap penting selanjutnya adalah nutrisi dan aktifitas. Sedangkan yang dianggap paling tidak mempengaruhi dalam subskala tersebut adalah persepsi sensori.

Dalam penelitian terbaru, oleh Page dkk (2010) di Australia, ditemukan bahwa suatu skala penilai risiko terjadinya dekubitus yang terbaru dan memiliki keefektifitasan yang lebih tinggi daripada skala Braden sedang dikembangkan oleh The Northern Hospital Human Research Ethics Committee dan the Northern Clinical Research Centre and the Injury Prevention Unit at the Northern hospital., Austarlia. Skala ini dinamakan The Northern Hospital Pressure Ulcer Prevention Plan (TNH-PUPP). Selain memiliki keefektifitasa yang lebih tinggi, skala TNH-PUPP ini lebih mudah digunakan dan tidak memerlukan pelatihan untuk menggunakannya.

Demikian sedikit yang dapat kami sampaikan tentang Skala Braden. Insyallah di tulisan berikutnya saya akan membahas tentang "Pedoman Pencegahan Dekubitus". Mohon dukungannya kawan-kawan. :) terimakasih atas kepercayaannya telah membaca tulisan saya diri. :).


Sumber Rujukan:

Lahmann, Nils A.; Tannen, Antje; Dassen, Theo dan Kottner, Jan. 2009. Friction and shear highly associated with pressure ulcers of residents in long-term care – Classification Tree Analysis (CHAID) of Braden items. Journal of Evaluation in Clinical Practice, Blackwell Ltd. ISSN 1356-1294.

Page, Karen Nicola; Barker, Anna Lucia dan Kamar, Jeannette. 2010. Development and validation of a pressure ulcer risk assessment tool for acute hospital patients. The Wound Healing Society.

Potter, Patricia A dan Perry, Anne Griffin. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik, E/4, Vol. 2. Jakarta, EGC.

Tidak ada komentar: